HIJRI DAN MASEHI


KHUTBAH JUM'AT & BAHAN BACAAN UNTUK KHUTBAH

SEMOGA PERSEMBAHAN INI BERMANFAAT & DI RIDOI ALLAH

Saturday, October 4, 2014

GERAK TAUHID UNTUK INDONESIA BANGKIT





GERAK TAUHID UNTUK INDONESIA BANGKIT
Oleh:
Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, MA
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Kaum Muslimin dan Muslimat yang dirahmati Allah Swt.,
Sungguh kita patut bersyukur kehadirat Allah Swt., bahwa pada hari ini kita umat Islam dapat merayakan Idul Adha, hari raya kurban atau hari raya pengorbanan. Idul Adha adalah hari raya yang terkait dengan pengorbanan Nabi Ibrahim As., yang pernah diperintahkan Allah Swt., lewat mimpi untuk menyembelih putra tercinta Ismail As., namun kemudian digantikan dengan seekor qibas, karena memang perintah itu hanyalah ujian keimanan.
Peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim As., dan ibadah kurban yang diperintahkan Allah kepada kita kaum beriman, memiliki dua dimensi utama:
Pertama, hubungan vertikal manusia dengan Allah Yang Maha Pencipta (hablun min Allah) yang harus berlangsung atas dasar keikhlasan pengabdian. Yaitu hubungan yang ditegakkan atas dasar cinta tanpa pamrih. Sulit dibayangkan bahwa Ibrahim As., rela memenuhi perintah menyembelih Ismail, putra satu-satunya, buah penantian panjang dari kemandulan isteri bertahun-tahun, kini sedang tumbuh berkembang sebagai seorang pemuda tampan. Logika manusia modern mungkin akan menolak perintah mimpi seperti itu yang hanya dianggap sebagai bunga tidur. Manusia modern mungkin akan mencari dalih bahwa perintah itu hanyalah tipu daya setan yang harus dihindari. Kecintaan manusia modern kepada dunia akan menghalanginya untuk melenyapkam milik yang paling dicintainya lewat tangan sendiri.
Namun, tidaklah demikian dengan Ibrahim As. Nabi kekasih Allah (Khalilullah), yang dikenal sebagai Bapak Monoteisme karena pencarian panjang dan intensnya akan Tuhan Yang Maha Esa, telah memilih jawabannya sendiri. Kecintaannya yang tulus kepada Allah, yang didasari pada keimanan yang kuat menghujam dalam diri, dan ketaatannya kepada Allah yang mengatasi segala loyalitas kepada makhluk, telah menggerakkan hatinya untuk memenuhi perintah Allah, walau secara manusiawi sangat berat untuk dilaksanakan.
Idul Adha dan ibadah kurban mengajarkan kepada kita untuk kembali kepada Allah, yaitu dengan menjadikan Allah sebagai pusat kesadaran dan kehidupan. Revitalisasi tauhid di tengah-tengah erosi keimanan dewasa ini adalah hal yang perlu dilakukan oleh kaum beriman. Kehidupan pada masa modern telah melahirkan dua tipe manusia. Pertama, manusia yang sombong dan angkuh sehingga ia menggeser pusat kesadaran dan kehidupannya dari Tuhan Pencipta (theo-centrism) kepada suatu kehidupannya dan kesadaran akan kekuasaan manusia (anthropocentrism), sehingga manusia menyembah dan
mengabdi kepada dirinya sendiri. Kedua, manusia yang tiada berdaya dan terjajah oleh manusia dan makhluk lain, dan lupa akan kemahakuasaan Allah, sehingga dia menyembah dan menyerahkan segala urusan kepada makhluk lain. Idul Adha, ibadah kurban dan ibadah haji yang merupakan napak tilas perjalanan Ibrahim As., mengajarkan kepada kita betapa penting bagi kita untuk meneguhkan komitmen keimanan hanya kepada Allah, Pencipta manusia dan alam semesta.
Para jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah,
Kedua, ibadah kurban berdimensi horizontal (hablun minannas), yaitu adanya kepedulian terhadap sesama manusia, bukanlah suatu kebetulan bahwa Allah menggantikan pengorbanan Ibrahim As., dengan seekor qibas dan memerintahkan kita untuk menyembelih hewan kurban, melainkan karena pengabdian kita kepada Allah haruslah dapat membawa dampak kemaslahatan kepada sesama manusia.
Menyembelih hewan kurban dan kemudian membagikan kepada fakir miskin dan kaum dhua’fa tentu merupakan amal kebajikan yang mempunyai implikasi social yang cukup berarti. Daging-daging hewan kurban yang kita bagikan pada saat Idul Adha dan hari-hari tasyrik akan merupakan nikmat bagi saudara-saudara kita yang hampir tidak pernah mengonsumsi daging, karena mungkin bagi mereka daging adalah menu yang terlalu mewah. Di samping itu, daging hewan kurban yang dibagikan adalah sebagai bentuk rasa empati, simpati serta kepedulian kita kepada masyarakat yang berhak, kaum lemah, kaum papa, yatim-piatu, dan fakir-miskin tanpa membedakan serta melihat mereka beragama, bersuku, berbangsa, dan berwarna kulit apa. Dengan demikian, idhul Adha juga merupakan ritual yang diharapkan berdampak sosial positif bagi semua kalangan.
Namun, yang lebih penting adalah bukan penyembelihan dan pembagian daging kurban itu sendiri, tetapi kepedulian dan kesadaran kita untuk mau berbagi kepada sesama adalah wujud dari ketakwaan kita kepada Allah.
Allah berfirman dalam al-Qur’an:
“Sekali-kali tiadalah daging-daging itu mencapai keridhaan Allah, tapi ketakwaan darimulah yang mencapai ridoNya”
Para jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah,
Kedua dimensi ibadah kurban tadi menunjukkan bahwa keberagamaan kita haruslah berpangkal pada keimanan kepada Allah yang kita jelmakan dalam keikhlasan pengabdian kepadaNya, dan kemudian harus bermuara pada kemaslahatan bagi sesama manusia; kemashlahatan bagi semua lapisan dan golongan masyarakat; rahmat bagi sekalian alam. Keberagamaan yang hanya berhenti pada keimanan tanpa peribadatan adalah keberagamaan yang kering-kerontang. Sedangkan, keberagamaan yang berhenti pada peribadatan saja tanpa membuahkan amal kebajikan adalah keberagamaan yang kosong hampa.
Pergeseran kata kurban, yang secara harfiah dalam bahasa Arab berarti pendekatan (diri kepada Allah), kepada kata pengorbanan dalam bahasa Indonesia yang mengandung arti melepaskan suatu yang paling berharga sekalipun demi sesuatu yang lebih mulia, membawa
makna positif, yaitu bahwa pendekatan diri kita kepada Allah (taqarrub ila Allah) harus mengejawantah dalam sikap rela memberi yang terbaik untuk mencapai kemuliaan.
Makna positif tersebut berdampak positif lebih jauh lagi, yaitu bahwa idul Adha atau idul kurban merupakan bentuk pengorbanan sebagai buah dari kesadaran akan nilai-nilai luhur dalam hal perjuangan menghindari egoisme pribadi dan juga kelompok. Ibrahim As., adalah prototype manusia atau hamba Allah yang semenjak awal tidak mementingkan diri sendiri bahkan juga terhadap kelompoknya. Bagi Ibrahim As., yang terpenting adalah bahwa setiap perbuatan harus ikhlash dilaksanakan, diabdikan untuk mensyukuri karunia Allah yang telah banyak dilimpahkan serta dikerjakan untuk membawa dampak yang mashlahat bagi manusia dan alam, tanpa membeda-bedakan derajat, agama dan bangsanya. Dengan demikian, Ibrahim As., merupakan simbol keteladanan sosial bagi setiap upaya “Menjalin Kebersamaan dalam Kemajemukan; Menebar Empati untuk Semua”.
Jamaah Idul Fitri yang berbahagia,
Terbentuknya insan paripurna adalah prasyarat bagi terwujudnya masyarakat utama (khaira ummah), karena insan paripurna adalah elemen terkecil dari masyarakat utama itu. Jika umat Islam, seperti dinyatakan oleh al- Qur’an, adalah khaira ummah atau masyarakat utama/terbaik, maka harus terdiri dari individu-individu yang paripurna. Sebagai khaira ummah, umat Islam harus memiliki keunggulan-keunggulan dalam berbagai bidang kebudayaan dan peradaban. Hal ini pernah diraih oleh umat Islam ketika mereka berjaya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad-abad pertengahan. Pada saat itu, umat Islam, dengan disinari wahyu al- Qur’an, berhasil menemukan dan mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan dan filsafat yang merupakan pilar suatu peradaban tinggi. Sebagai hasilnya, umat Islam menjadi pemegang supremasi peradaban dunia.
Namun, kejayaan peradaban Islam itu tidak berlangsung terus, tetapi justeru mengalami kemunduran hingga sekarang ini. Dunia Islam menjadi mundur, dan umat Islam terjatuh kepada tiga masalah sekaligus citra utama, yaitu kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Umat Islam menghadapi masalah kesenjangan antara jumlahnya yang besar dan kualitas perannya bagi peradaban dunia. Umat Islam yang berjumlah sekitar 1,4 milyar orang atau sekitar 22% dari total penduduk dunia hanya dapat memberi sumbangan 5% terhadap perekonomian dunia. Begitu pula dalam bidang ilmu-pengetahuan dan teknologi, umat Islam nyaris menjadi konsumen dari pada produsen. Dunia Islam tidak banyak memiliki ilmuwan sejati dan kurang memiliki pusat-pusat keunggulan akademik (center for academic excellent) yang merupakan prasyarat bagi kemajuan ilmu-pengetahuan dan teknologi. Walaupun banyak Negara Islam yang mempunyai sumber daya alam yang kaya raya, tetapi karena tidak didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, maka hamper tidak ada Negara Islam yang bisa dikategorikan sebagai negara maju.
Dalam konteks Indonesia, fenomena serupa juga terjadi. Sebagai bagian terbesar dari bangsa ini umat Islam belum dapat menampilkan peran terbesar. Umat Islam Indonesia menghadapi masalah rendahnya kualitas infrastruktur sosial, ekonomi dan pendidikan. Dalam bidang pendidikan, banyaknya lembaga pendidikan yang dilola umat Islam belum sepadan dengan mutu lembaga-lembaga pendidikan tersebut, walaupun sudah mulai muncul sekolah-sekolah berkualitas. Dalam bidang ekonomi terdapat ironi. Islam yang masuk ke
Nusantara lewat jalur ekonomi karena dibawa oleh dai-dai pedagang, yang kemudian ikut mempengaruhi terbentuknya kelas menengah Islam yang relatif berjaya dalam bidang ekonomi dan kemudian membentuk sentra-sentra perekonomian umat di beberapa daerah, kini terpuruk dan belum dapat bangkit kembali. Kalau dalam bidang pendidikan keagamaan ada fenomena “robohnya surau kami”, dalam bidang ekonomi ada fenomena “runtuhnya kedai kami”. Kelemahan dalam bidang ekonomi ini membawa dampak terhadap bidang-bidang kehidupan lain, baik sosial, pendidikan, politik maupun dakwah.
Kesenjangan antara idealitas Islam dan realitas kehidupan umat Islam adalah masalah besar yang harus diatasi. Kalau umat Islam ingin bangkit kembali merebut supremasi peradaban dunia, maka tidak ada pilihan lain kecuali umat Islam menangkap kembali api dan semangat Islam. Islam adalah agama kemajuan, yang mendorong kehidupan umatnya ke arah hidup yang berkemajuan. Jika kemajuan Eropa didorong oleh etika Protestanisme yang menekankan kerja keras, produktifitas, penghargaan akan waktu, dan penghematan -- begitu pula kebangkitan Asia-Pasifik karena etika Konghucu yang juga menekankan nilai-nilai yang sama-- maka Islam jauh lebih kuat mendorong nilai-nilai etika tersebut dalam banyak ayat al- Qur’an dan al- Hadits. Bahkan sebagai khaira ummah, umat Islam diperintahkan oleh al- Qur’an untuk menjadi saksi-saksi bagi umat manusia seperti dalam ayat:
“Dan dengan demikian Kami jadikan kamu semua umat tengahan supaya kamu semua menjadi saksi-saksi atas semua manusia, dan Rasul menjadi saksi atas apa yang kamu semua lakukan. . . “ (al-Baqarah: 143).
Dari ayat tadi terdapat isyaratbahwa umat Islam perlu menampilkan dua macam syahadat. Selain harus menampilkan “syahadat keyakinan” yaitu keyakinan akan keesaan Allah SWT dan kerasulan Muhammad SAW (La Ilaha illallah, Muhammadur rasulullah), umat Islam perlu juga sebagai manifestasi “syahadat keyakinan” itu untuk menampilkan “syahadat kebudayaan dan peradaban”, yaitu dengan memberi bukti-bukti bahwa kebudayaan dan peradaban Islam adalah tinggi. Maksudnya, umat Islam harus tampil merebut kemajuan dan keunggulan dalam kebudayaan dan peradaban.
Jamaah Idul Adhayang dirahmati Allah SWT,
Pada ayat tadi, cita-cita kemajuan dan keunggulan dikaitkan dengan keberadaan umat Islam sebagai “umat tengahan” (ummatan wasthan). Citra diri sebagai “umat tengahan” mengandung arti bahwa umat Islam tidak boleh terjebak kepada spektrum ekstrimitas dan keberagamaan dan kehidupan. Sebaliknya, umat Islam perlu mengambil posisi tengahan (median position) dalam menegakkan keseimbangan dan keadilan dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Memang, menurut para ulama, seperti Imam al- Ghazali, akidah Islam adalah akidah tengahan (al- aqidah al- wasithiyyah) yang menjaga keseimbangan antara hablun minallah dan hablun minannas, antara
kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi, dan antara kehidupan individual dan kehidupan sosial. Akidah tengahan ini dapat juga diterapkan pada berbagai aspek kehidupan lain.
Sebagai umat tengahan dengan akidah tengahan maka keberagamaan umat Islam perlu juga mengambil posisi jalan tengah (middle path). Posisi jalan tengah dalam beragama adalah posisi keberagamaan yang tidak terjebak baik kepada ekstrim yang hanya mementingkan kehidupan ukhrawi saja sehingga melupakan kehidupan duniawi, atau sebaliknya, mementingkan duniawi saja sehingga melupakan kehidupan ukhrawi. Keberagaman tengahan mengejawantah dalam kesungguhan hidup pada dua dunia itu, seperti tercermin dalam kata hikmah “berbuatlah untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah-olah kamu mati besok”. Keberagamaan tengahan, dengan demikian, adalah keberagamaan total dan komprehensif, bukan keberagamaan parsial, yakni demi keseimbangan mengambil sebagian dari setiap dua hal. Keberagamaan tengahan juga mengambil bentuk keberagamaan proporsional, yaitu menjalankan ajaran-ajaran agama sesuai dengan proporsinya.
Islam jalan tengah seperti itu mungkin bisa menjadi solusi bagi Indonesia yang kini masih terpuruk. Sejak era reformasi sepuluh tahun yang lalu, memang harus diakui banyak kemajuan yang telah dicapai dalam kehidupan kebangsaan kita, tetapi kita tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak masalah di hadapan kita. Proses kehidupan bangsa selama ini belum membawa perubahan mendasar. Memang multi krisis telah bergerak dari palungnya yang paling dalam, tetapi proses kepulihan belum tiba di permukaan. Dalam bidang ekonomi kita bersyukur telah keluar krisis tetapi perbaikan tarap kehidupan ekonomi masyarakat masih jauh dari harapan. Angka kemiskinan masih tinggi, begitu pula angka pengangguran. Sebagian rakyat masih hidup dalam kesusahan untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk membiayai pendidikan dan kesehatan anggota keluarga. Fenomena kemiskinan rakyat Indonesia memang masih memprihatinkan, seperti ditunjukkan pada penyaluran dana yang bersifat massal, begitu banyak rakyat jelata yang rela berjejal di bawah terik panas matahari hanya untuk harapan menerima dua puluh rupiah. Fenomena kemiskinan ini menampilkan ironi bagi Indonesia yang kaya akan sumber daya alam. Memang ironi ketika ayam mati di lumbung padi.Tetapi, jawabannya sangat jelas, bahwa pengelolaan sumber daya alam kita, baik yang ada di perut bumi seperti minyak, gas, batu bara, emas, tembaga, maupun yang ada di atas tanah seperti kayu, coklat, cengkeh, serta di dalam laut Indonesia seperti ikan, dan lain-lain, lebih banyak menguntungkan pihak luar dari pada membawa kesejahteraan bagi rakyat kita sendiri. Sumber daya alam kita terkuras dan terjarah oleh pihak asing adalah karena kita sendiri bersedia “dijajah” sehingga mau menjual tanah dan air yang kita miliki dengan harga murah.
Dalam bidang politik memang ada kemajuan. Proses demokrasi yang berlangsung selama ini mendapat pujian banyak pihak bahwa Indonesia sedang bangkit menjadi negara demokrasi terbesar keempat dan negeri Islam demokratis terbesar di di dunia. Demokratisasi yang ditandai oleh pembentukan lembaga-lembaga quasi negara dan proses pemilihan langsung kepala daerah dan negara adalah prestasi yang patut dipuji. Namun prestasi tersebut bukan tanpa cela dan harga mahal yang harus dibayar. Pemilihan langsung, umpamanya, telah menimbulkan keretakan sosial; bukan hanya antar partai-partai politik
pengusung calon, tetapi dalam satu partai politik, bahkan organisasi masyarakat sekalipun. Lebih dari pada itu, banyak partai politik yang mungkin dipandang sebagai manifestasi kebebasan dan persamaan hak politik rakyat warga negara sangat potensial menciptakan disintegrasi sosial, termasuk di kalangan umat Islam. Hal ini mungkin terjadi kala seseorang memberi loyalitas berlebih terhadap partai yang acapkali menampilkan fanatisme kelompok yang berlebihan pula. Sebagai akibatnya, keretakan bahkan perpecahan masyarakat tak terelakkan. Bahkan ukhuwah Islamiyah bisa menjadi korban akibat orientasi duniawi yang ekstrim ini.
Demokrasi Indonesia memang masih bersifat prosedural, belum bersifat substantif apalagi fungsional untuk mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat. Kita tidak mungkin memutar arah jam sejarah kea rah otoritarianisme politik, tetapi kita tidak boleh membiarkan proses demokrasi itu berlangsung liar tanpa kendali. Sudah saatnya proses demokrasi ini kita koreksi dengan mensenyawakan nilai-nilai etika dan moral politik berdasarkan agama dan budaya luhur bangsa.
Pada tataran internasional, kita masih menghadapi masalah rendahnya daya saing bangsa dalam berbagai bidang, baik dalam bidang seni budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi maupun perekonomian. Sebagai bangsa besar, seyogyanya Indonesia bisa tampil sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Tetapi, citra kita sebagai bangsa besar itu belum menjelma dalam hubungan antar bangsa dewasa ini. Kebangkitan dan kemajuan kawasan Asia Pasifik atau Asia Timur di mana Indonesia berada belum dapat kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jika hal ini tidak segera disadari dengan langkah-langkah penghadapan nyata, maka tidak mustahil kita hanya akan jadi penonton terhadap dinamika kawasan yang berkembang cepat, sementara Indonesia yang kaya raya menjadi mangsa empuk kedigdayaan macan-macan Asia baru itu.
Fenomena keterpurukan tadi masih dapat ditambah dalam bidang moral. Bahwa masalah demi masalah yang kita hadapi ternyata berpangkal pada krisis moral. Tetapi arus demoralisasi yang melanda kehidupan bangsa tidak cukup disadari sebagai ancaman serius bagi eksistensi bangsa itu sendiri. Hal ini terjadi ketika kita terjebak ke dalam permisivisme budaya, yaitu dengan membiarkan dan mengabaikan proses dekadensi moral yang terjadi secara sistematis tanpa tergerak untuk mengatasi dan menghalanginya. Bahkan pelanggaran moral itu nyaris menjadi “moralitas publik” baru kala sebagian dari kita mau untuk terlibat dalam pelanggaran yang bersifat kolektif. Itulah yang terjadi pada perkembangan budaya hedonistik yang mendapat dukungan masif dari warga masyarakat. Begitu juga pada kasus korupsi, banyak elit pada banyak lingkaran mau melakukannya secara terbuka dan berjamaah. Kita memuji pemberantasn korupsi yang sudah mulai menggeliat, tetapi kita masih bersedih bahwa praktek-praktek korupsi masih terjadi, baik di lingkaran eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Bahkan praktek-praktek serupa masih terjadi dengan melibat rakyat pada lapis bawa, yaitu ketika mereka terpaksa berkompromi dalam pengurusan dokumen-dokumen sebagai warga negara dan di jalan-jalan raya. Memang korupsi belum menjadi budaya, tetapi jika praktek-praktek yang ada tidak segera diakhiri maka tidak mustahil akan membawa kerusakan bangsa.
Jamaah Idul Adha yang terhormat,
Bagaimana dengan peran umat Islam terhadap kemajuan bangsa? Umat Islam dapat tampil memberi solusi. Sebagai bagian terbesar dari bangsa yang telah memberi peran besar dan strategis bagi pembentukan bangsa pada masa lalu, umat Islam harus merasa memiliki tanggung jawab terbesar pula untuk mengatasi aneka masalah yang dihadapi bangsa dewasa ini. Umat Islam harus tampil sebagai problem solver atau penyelesai masalah bangsa, tentu dengan bekerja sama dengan komponen-komponen bangsa lainnya.Karena penyelesaian problematika Indonesia tidak bisa ditangani oleh suatu kelompok tertentu, tetapi harus dengan kebersamaan seluruh elemen bangsa, baik pemerintah maupun masyarakat madani.
Namun, sebagai kelompok mayoritas umat Islam harus tampil sebagai salah satu faktor determinan Indonesia. Maju mundurnya bangsa di masa depan harus ikut ditentukan oleh maju mundurnya umat Islam. Jika umat Islam maju maka Indonesia akan maju. Begitu pula sebaliknya, jika Indonesia terpuruk berarti ada yang salah dalam diri umat Islam yang belum mampu mendorong kemajuan Indonesia.
Oleh karena itulah, Jalan Tengah mungkin dapat menjadi solusi. Jalan Tengah ini perlu menjadi bagian dari kesadaran baru umat Islam dan Bangsa Indonesia. Paling tidak ada sepuluh watak budaya merdeka yang perlu menjadi budaya baru Bangsa Indonesia. Dasa watak budaya itu adalah sebagai berikut:
10 WATAK BUDAYA MERDEKA
1. Merdeka dari kebiasaan mementingkan diri sendiri atau kelompok dengan mengedepankan kepentingan publik dan kepentingan bangsa yang lebih luas
2. Merdeka dari tirani perasaan benar sendiri menjadi anak bangsa yang toleran dan menghargai perbedaan.
3. Merdeka dari sifat-sifat feodalisme dan primordialisme menjadi egalitarian yang menempatkan sesama anak bangsa dalam posisi dan perlakuan yang sama
4. Merdeka dari budaya yang hanya mencela belaka dengan membangun budaya menghargai upaya dan hasil karya orang lain
5. Merdeka dari budaya nepotisme dengan mengedepankan kultur meritokrasi atau prestasi
6. Merdeka dari kultur kekerasan menjadi bangsa yang beradab dalam menyelesaikan setiap persoalan
7. Merdeka dari kecintaan pada dunia fana belaka dan mulai menyeimbangkan kehidupan dengan menjalankan ajaran agama yang baik (agama yang fungsional yang tidak hanya berhenti pada spritualisme pasif tetapi spritualisme aktif dan dinamis yang mendorong daya saing dan mendorong etos kerja sehingga bangsa dapat bersaing dipentas global )


8. Merdeka dari kebiasaan korupsi dan mulai bekerja membangun prestasi dan menuai karya dari hasil keringat sendiri
9. Merdeka dari ketergantungan dari bangsa lain dan mulai membangun kemandirian nasional, mulai kerjasama internasional yang adil dan saling menguntungkan
10. Merdeka dari rasa rendah diri dalam pergaulan antar bangsa dan menjadi bangsa yang berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini

Kaum Muslimin dan Muslimat yang dirahmati Allah SWT.
Sebagai insan yang beragama kita semua harus optimis bahwa Bangsa Indonesia akan dapat bangkit merebut kemajuan dan keunggulan. Memang kita tidak boleh bersedih apalagi berputus asa akan masa depan kita. Keadaan kita pada masa depan sangat ditentukan oleh kemampuan kita untuk merubah diri dan melakukan perubahan itu sendiri, seperti dinyatakan Allah SWT dalam al- Qur’an:
“Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah keadaan sesuatu bangsa,
melainkan bangsa itu sendiri melakukan perubahan terhadap apa-apa yang adalam diri mereka sendiri” (al- Ra`d: 11)
Marilah kita bermunajat ke hadirat Allah SWT, memohon ampun dosa dan memohon kekuatan lahir dan batin bagi keselamatan hidup kita di dunia dan akhirat:
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dan dosa-dosa orang-orang yang beriman kepadaMu, baik yang masih ada maupun yang telah tiada. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa-dosa kedua orang tua kami serta rahmatilah mereka sebagaimana mereka telah membimbing kami sejak kecil.
Ya Allah, terimalah segala amal ibadah kami pada Bulan Ramadhan. Berilah kami kemampuan untuk memaknainya dan kemampuan mengamalkan makna-makna itu dalam kehidupan nyata pada masa akan tiba.
Ya Allah, berilah kami kekuatan lahir dan batin untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Berilah kami kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada atas bimbingan wahyuMu.
Ya Allah, limpahkanlah atas kami ketetapan hati untuk bangkit dari ketrpurukan. Berilah kami hikmah kebijaksanaan untuk menggalang kebersamaan untuk mewujudkan Indonesia berkemajuan.
Wassalamu`alaikum Wr. Wb.

KHUTBAH IDUL ADHA I DAN KE II - ARAB




اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أََنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Khutbah 2
اَللهُ أَكْبَرُ ... X 7     اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٌ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ ... اِتَّقُوْا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ تَعَالَى صَلَّى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اللّهمَّ أَعِزَّ الإسْلاَمَ وَالمسلمين وَأَذِلَّ الشِّرْكَ والمشركين وَدَمِّرْ أعْدَاءَ الدِّينِ وَاجْعَلْ دَائِرَةَ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ يا ربَّ العالمين. اللهمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ عَلى الحَقِّ وَالثَّبَاتَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وصَلِّ اللهمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وصَحْبِهِ وَسَلِّمْ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللهُ أَكْبَرُ ... X 3   وَلِلَّهِ الْحَمْدِ

KHUTBAH IDUL FITRI



MERAIH KEMENANGAN  DENGAN  AMAL SOLIH
KHUTBAH PERTAMA
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ x3 
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
لَا إِلَهَ إِلّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلّا إِيّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْن وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْن، وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْن، وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْن. لَا إِلَهَ إِلّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ،
لَا إِلَهَ إِلّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْد.
إِنّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا، أَشُهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، اللّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن،
أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِالتَّقْوَى فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى
قَالَ اللهُ سبحانه وتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْز، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ الله الرَّحْمنِ الرَّحِيْم: ((يَا آيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ادْخُلُوْا فِيْ السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ)) (سورة البقرة:208)
وقال تعالى أيضا: ((قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا)) (سورة الشمس:9-10)

Ma`asyiral Muslimin wal Muslimat Rohimakumulloh
Pertama-tama rasa syukur kita marilah sama-sama kita
panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan hidayah,inayah dan taufiqnya kepada kita, dan yang  selalu melimpahkan ni`mat dan karuniaNya kepada kita dalam setiap saat, tidak ada satu detikpun hidup yang kita jalani kecuali pada saat itu ada ni`mat Allah yang menyertai kita, udara yang sedang kita hirup, darah yang masih mengalir di tubuh kita, denyut jantung yang tak pernah berhenti, serta ni`mat-ni`mat yang lainnya yang takkan pernah bisa kita hitung jumlahnya.

Itu artinya bahwa Allah SWT tidak pernah melupakan hambaNya meskipun sesaat, akan tetapi hambaNyalah yang selalu melupakan Allah swt, bahkan sebagian dari hamba Allah itu justru menggunakan ni`mat yang diberikan untuk berbuat maksiat kepadaNya, untuk itu marilah kita sadari dan kita renungkan, semoga kita tidak termasuk kedalam golongan tersebut, akan tetapi kita harus menjadi hambaNya yang bersyukur agar ni`mat itu selalu bertambah bagi kita.
Allah SWT berfirman:
(( لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ )) (سورة إبراهيم: 7)
“Jika kamu bersyukur terhadap nikmatku niscaya akan aku tambah ni`mat tersebut, tetapi jika kamu kufur sungguh azabKu sangatlah pedih”  (Q.S. Ibrahim: 7  )

Tak bosan-bosannya Shalawat dan salam juga haruslah selalu kita perbanyak untuk Rasulullah SAW yang telah berjuang dan mengorbankan segala-galanya untuk kemaslahatan dan kebahagiaan ummatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Semoga saja kecintaan kita kepada Beliau selalu bertambah dan tak pernah pudar, dan kita berharap semoga ungkapan shalawat yang selalu membasahi lidah kita itu membuat kita menjadi orang yang berhak mendapatkan syafa`atnya di Yauma La yamfau’ Malun Wala banun illa Man Atallohu Bi Qolbin Salim...Amin


الله اَكْبَر اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَلِلهِ الحَمْدُ
Hadirin kaum Muslimin wal Muslimat Rohimakumulloh
Pada hari yang mulia ini umat Islam di b
erbagai belahan dunia beramai-ramai melantunkan kata-kata Takbir, Tahmid dan Tahlil sebagai wujud rasa bahagia dalam menyambut hari kemenangan. Mereka semua berbahagia karena sebulan penuh telah berhasil melawan hawa nafsu serta mengisi detik-detik waktunya dengan berbagai macam bentuk kebaikan yang akan mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT. Berpuasa di siang hari, shalat tarowih di malam hari, memperbanyak tilawah Al-Quran, berdo`a dan beristighfar, berinfaq dan bersedekah, menjalin hubungan silaturrahmi, dan lain sebagainya,demi untuk meraih segala keutamaan, keistimewaan, rahasia yang terkandung di dalam bulan Ramadhan, dan mendapat keampunan dari segala kekhilapan,kesalahan yang telah terlanjur.

Meskipun demikian ada rahasia yang harus kita garis bawahi bahwa kebahagiaan yang terpancar di raut wajah hari ini memiliki dua kemungkinan, sebahagian dari mereka ada yang berbahagia karena sedang menyambut kemenangan dirinya sendiri, sementara sebahagian yang lain ada pula yang berbahagia tapi sekedar merayakan kemenangan orang lain karena dia belum mendapat taufiq untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan yang lewat.

Dalam hal ini kita tidak dianjurkan untuk menilai orang lain, kita hanya dituntut untuk merenungkan diri kita masing-masing apakah kita sekarang benar-benar sedang merayakan kemenangan diri kita sendiri, ataukah sedang nebeng, numpang bahagia dalam menyambut kemenangan orang lain. Kita semua berharap semoga kita dapat meraih segala keutamaan, keistimewaan, fadilah dan rahasia yang terkandung di dalam bulan Ramadhan yang lewat dan yang akan datang, sehingga kita bisa menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya.

Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah mereka yang telah mendapatkan ampunan dan maghfiroh dari Allah SWT karena telah memanfaatkan detik-detik Ramadhan secara maksimal untuk berbagai bentuk amal solih yang dilaksanakan atas dasar iman dan semata-mata mengharap rido Allah.
Sesuai dengan sabda Nabi SAW:
(مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ) (رواه البخاري ومسلم)
"Siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan penuh iman dansemata-mata mengharap rido Allah,  maka diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
 ( مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ) (رواه البخاري ومسلم)
“ siapa yang menghidupkan malam ramadhan dengan dasar iman dansemata-mata mengharap rido Allah,  maka diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
الله ُاَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Hadirin kaum muslimin Rohimakumulloh
Perbuatan dan amal 
solih yang sudah menjadi kebiasaan umat Islam selama Ramadhan diharapkan mampu membentuk karakter  dan tabi`at mereka untuk berbuat hal yang sama didalam menjalani kehidupan berikutnya, janganlah pernah menjadikan Ramadhan sebagai topeng dalam kehidupan kita, tapi jadikanlah sebagai wajah asli kita dalam menjalani sebelas bulan kehidupan berikutnya. Sungguh.....celaka orang yang tidak mendapat keampunan selama Ramadhan.

Apabila selama Ramadhan kita selalu menyempatkan diri untuk membaca Al-Quran, mendatangi masjid untuk shalat berjama`ah, bangun di sepertiga malam untuk sahur dan tahajjud, memperhatikan fakir miskin, meneteskan air mata saat bermunajat dan taubat di hadapan Allah SWT, serta berbagai amal solih lainnya, maka janganlah sampai kebaikan-kebaikan tersebut menjadi wajah indah kita yang bersifat sesaat, akan tetapi jadikanlah ia sebagai perhiasan jiwa yang tetap bertahan dan terlaksana setelah Ramadhan meninggalkan kita. Allohumma habbib ilainal iman Wa zayyinhu fi Qulubia,
Ya Allah, cintakanlah kami pada iman dan biarkanlah ia menghiasi hati kami, tanamkan kebencian pada diri kami pada perbuatan kufur, fasiq,dan maksiat  serta masukkanlah kami kedalam golongan orang yang mendapat petunjuk.


Oleh karena itu hari raya idul fitri yang dijadikan sebagai agenda terakhir dari seluruh rangkaian ibadah Ramdhan pada hakikatnya bukanlah saat-saat berakhirnya peluang untuk meraih kebaikan dan amal solih, tapi justru sebaliknya bahwa idul fitri adalah saat awal memulai kehidupan baru dengan hati yang baru dan semangat yang baru dengan keadaan bersih dari dosa,sebagaimana anak yang baru lahir dari perut ibunya.
قال عمر بن عبد العزيز:
لَيْسَ الْعَيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ          إِنَّمَا الْعَيْدُ لِمَنْ خَافَ يَوْمَ الْوَعِيْدِ 
Umar Bin Abdul Aziz pernah berkata:
Hari raya itu bukanlah milik orang yang memakai pakaian baru
Akan tetapi hari raya adalah milik orang yang  takut dengan hari pembalasan
وقال آخر:
لَيْسَ الْعَيْدُ لِمَنْ تَجَمَّلَ بِالرُّكُوْبِ       إِنَّمَا الْعَيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْبُ 
Hari raya itu tidaklah buat yang memiliki kenderaan mewah
Akan tetapi hari raya itu buat orang yang dosanya terampuni


وقال الحسن البصري: " كُلُّ يَوْمٍ لَا يُعْصَى اللهُ فِيْهِ فَهُوَ عَيْدٌ، وَكُلُّ يَوْمٍ يَقْطَعُهُ الْمُؤْمِنُ فِيْ طَاعَةِ مَوْلَاهُ وَذِكْرِهِ وَشُكْرِهِ فَهُوَ لَهُ عَيْدٌ "
Imam Hasan Al-Bashri berkata: “setiap hari yang di dalamnya tidak ada kedurhakaan kepada Allah SWT maka hari itu adalah hari raya, dan setiap hari di mana seorang mukmin tetap berada dalam ketaatan Tuhannya serta berzikir dan bersyukur kepadaNya maka bagi dia hari itu adalah hari raya”.

Inilah hakikat Idul Fitri yang sesungguhnya, kembali kepada kesucian, meraih kemenangan dengan prestasi taqwa serta mempertahankan kesucian dan kemenangan tersebut di
hari-hari yang akan datang dengan amal solih.
الله ُاَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Kaum Muslimin jamaah solat ‘id Rohimakumulloh.
Hari ini kita merayakan hari kemenangan, rahim Ramadhan telah melahirkan  pribadi muslim yang me
raih kemenangan dengan keampunan dosa-dosa yang telah lewat, namun kemenangan seperti apakah yang akan diraih oleh umat Islam melalui ibadah Ramadhan?.

Ada tiga bentuk kemenangan bagi umat Islam:
Pertama, Kemenangan Spritual.
Kemenangan spiritual adalah kemenangan jiwa, jiwa yang menang adalah jiwa yang selalu bersih dan suci dari berbagai noda dan penyakit seperti syirik, sombong, hasad dan dengki, dan berbagai penyakit hati lainnya
seperti SMS: Susah Melihat orang Senang atau Senang Melihat orang Susah yang diharapkan melalui Ramadhan dapat terkikis habis.

Allah SWT berfirman:
(( قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا )) ( سورة الشمس: 9-10)
“Sungguh telah menang dan beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya” (Q.S. Asy-Syams: 9-10)
Jiwa yang menang adalah jiwa yang selalu berupaya untuk membentengi diri dari berbagai bentuk penyimpangan dan penodaan terhadap aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, dan itu adalah hakikat taqwa sesungguhnya yang ingin dicapai melalui ibadah puasa. Sesuai dengan firman Allah SWT:
(( يَا آيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْن )) (سورة البقرة: 183)
“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian untuk berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, semoga kalian menjadi orang yang bertaqwa” (Q.S. Al-Baqarah: 183).

Taqwa adalah suatu kondisi iman dan semangat spiritual yang harus selalu terpatri dalam jiwa seseorang, agar secara berkesinambungan ia selalu merasakan kehadiran dan pengawasan Allah dalam setiap gerak langkah aktifitas yang dilakukannya, sehingga dengannya ia termotivasi untuk tetap taat dan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT,dan inilah buah daripada salah satu rukun Agama yaitu IHSAN.

Betapa indahnya perumpamaan yang diberikan oleh Ubay bin ka’ab ketika beliau ditanya oleh Umar bin Khattab tentang hakekat taqwa. Ketika itu Ubay balik bertanya: “wahai Amirul mukminin, apa yang anda lakukan di saat anda melewati jalanan yang penuh duri? Umar manjawab: saya akan meneguhkan pandangan agar langkah kakiku tidak menginjak duri, lalu Ubay berkata: wahai amirulmukminin itulah taqwa.”

Apabila sifat taqwa itu sudah tumbuh subur dalam jiwa seseorang maka ia akan selalu rela dan senang hati untuk menerima dan melaksanakan aturan Allah, apapun konsekwensi yang akan dihadapinya, meskipun akan mengorbankan sesuatu yang paling dia cintai, atas nama cinta kepada Allah dan Rosulnya.
Jika itu berhasil ia lakukan maka saat itu ia sedang merayakan puncak kemenangan spritualnya.

Semangat ketaqwaan seperti itulah yang diciptakan oleh ibadah puasa, karena dengan berpuasa seseorang dituntut untuk selalu dalam suasana jiwa yang dekat kepada Allah SWT, sebagaimana ia dituntut untuk menghargai waktu agar bisa meraih sekecil apapun peluang ibadah, serta menghindari sekecil apapun peluang dosa yang akan bisa mengurangi atau merusak nilai-nilai pahala puasa.
Bahkan dari yang mubah sekalipun jika tidak mendatangkan manfaat apa apa.

Oleh Karena itulah Rosulullah membahasakan bahwa “puasa adalah sebagai perisai.”
الله ُاَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Ma`asyiral Muslimin wal Muslimat Rohimakumulloh
Ada satu karakter jiwa yang ingin dibina oleh Ramadhan yaitu, jujur atau amanah. Ibadah puasa adalah
melatih bagi kejujuran kita, tidak ada yang mengetahui kepastian orang yang berpuasa selain daripada Allah SWT, berbeda dengan ibadah yang lain seperti shalat, haji, zakat dan lain sebagainya.
Kejujuran adalah satu kekuatan yang terdapat dalam jiwa yang membuat pemiliknya mampu melakukan tugas-tugas besar yang di
amanahkan kepadanya. Dengan kejujuran, berbagai persoalan dalam hidup dapat diselesaikan, sebaliknya tanpa kejujuran berbagai problematika kehidupan akan selalu bermunculan.

Oleh karena itu menghiasi diri dengan sifat jujur adalah satu tuntutan yang dibebankan kepada seluruh lapisan, elemen masyarakat; pemimpin, pejabat, hakim, politikus, pengusaha, wartawan, kaum akademisi, rakyat dan lain sebagainya.
Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara jangan sampai terjadi krisis kejujuran karena hanya akan melahirkan kehancuran demi kehancuran. Itulah fakta dan kenyataan; korupsi merajalela, keserakahan pejabat terjadi di mana-mana, pengangguran susah diatasi, kesenjangan social dan penindasan rakyat kecil sudah menjadi hal yang biasa, ketidakharmonisan dalam kehidupan rumah tangga, dan lain sebagainya, itu semua berawal dari ketidakjujuran dan ketidakadilan.

Maka apabila pemimpin sudah mampu untuk jujur terhadap rakyatnya, para pejabat jujur dalam mengemban amanah jabatannya, para hakim jujur dalam menyelesaikan perkara persidangannya, para suami jujur dalam memimpin keluarganya, serta semua kita mampu untuk jujur terhadap diri kita sendiri, jujur kepada Allah dan jujur kepada masyarakat maka yakinlah kedamaian hidup pasti akan dirasakan, persoalan demi persoalan akan semakin dapat disingkirkan, dengan demikian kita dapat menghiasi dinding-dinding harapan dengan penuh optimis dalam menatap masa depan diri dan bangsa yang cemerlang.
الله ُاَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Ma`asyiral Muslimin wal Muslimat Rohimakumulloh
Kedua: Kemenangan Emosional
Ibadah Ramadhan akan membimbing umat Islam menuju kemenangan emosional. Emosi adalah sifat perilaku dan kondisi perasaan yang terdapat dalam diri seseorang. Ia bisa berupa rasa ingin marah, rasa takut, rasa cinta atau keinginan yang kuat untuk mencintai dan membenci, rasa cemas, rasa minder dan lain sebagainya. Emosi yang menang adalah apabila ia terkendali, yang dalam istilah agama disebut dengan sabar. Jika kita perhatikan teori tentang kecerdasan emosi yang dijelaskan oleh para ahli fsikologi, ternyata konsep kecerdasan emosi ini berbanding sama dengan konsep kesabaran dalam Islam. Sabar dalam Islam bukanlah satu kelemahan, tetapi sabar justru merupakan satu kekuatan.

Di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa satu orang yang sabar mampu mengalahkan sepuluh lawan dalam pertempuran, atau setidaknya mereka mampu menghadapi lawan sebanyak dua kali jumlah mereka (QS 8: 65-66). Ketika seorang bersabar dan dapat menahan amarahnya dalam menghadapi satu perkara yang ia hadapi maka dia bukanlah orang yeng lemah, akan tetapi justru dia adalah orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.

Dalam sebuah ungkapannya Rasulullah SAW bersabda: “ orang yang kuat bukanlah orang yang selalu menang dalam berkelahi, akan tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menahan diri saat dia marah” (H.R Imam Al-Bukhari).

Kesabaran merupakan karakter yang sangat mulia dan ia bisa diraih dengan cara melatih dan membiasakan diri dengannya. Maka bulan Ramadhan merupakan kesempatan yang besar bagi seorang Muslim untuk melatih kesabaran itu. Ia dilatih untuk mengontrol jiwanya dari pengaruh hawa nafsunya. Dengan begitu ia bisa keluar dari bulan Ramadhan sebagai pribadi yang kuat dan pandai mengendalikan diri dan emosinya.

Keterkaitan antara puasa dengan membangun kecerdasan emosional begitu terlihat dalam penjelasan Rasulullah SAW yang mengatakan:  “apabila seseorang sedang berpuasa lalu ada yang menghina dia atau mengajaknya untuk berkelahi maka hendaklah ia mengatakan: saya sedang berpuasa, saya sedang berpuasa” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).
Dengan arti kata kondisi seseorang yang sedang berpuasa akan dapat menahan emosinya agar tidak membalas cacian dan dendam dengan perbuatan yang sama.
Ibadah puasa akan selalu membimbing umat Islam untuk dapat mengendalikan jiwa dan nafsunya dengan cara zikir dan syukur kepada Allah SWT. Jika seseorang sudah mampu untuk selalu berzikir dan bersyukur, apalagi jika hal itu sudah menjadi bagian yang tak terpisah dari diri dan kehidupannya, maka itu adalah indikasi dari emosional yang terkendali, sehingga dengannya ia akan selalu menghadapi berbagai persoalan hidup dengan tenang dan percaya diri, dan itu adalah puncak kemenangan emosional.

Bandingkan dengan seseorang  yang selalu lupa kepada Allah serta tidak mau bersyukur terhadap karunia yang didapatkannya dari Allah, maka ia akan selalu dihimpit oleh berbagai problem kehidupan, khususnya problem kejiwaan yang tak jarang mereka selesaikan dengan cara mereka sendiri. Ada yang dengan cara bunuh diri, ada lagi dengan cara menelan obat2 atau pil yang mereka anggap akan mampu menenangkan jiwa mereka, dan lain sebagainya. Maka ibadah puasa akan selalu berusaha untuk menutup rapat rapat pintu yang akan membawa seseorang menuju kekacauan emosional dengan cara zikir dan syukur tersebut.

Satu lagi pelajaran penting yang dapat ditarik bahwa ibadah puasa akan menghapus sekat-sekat pemisah antara yang kaya dengan yang miskin, mereka
semua sama di hadapan Allah SWT, apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin selama ini, itu jugalah yang dapat dirasakan oleh yang kaya saat ia berpuasa, maka puasa akan membangun jembatan untuk menyatukan perasaan antar sesama umat Islam tanpa memandang status social  untuk saling mencintai, saling membantu, dan saling berbagi. Mungkin Ini jugalah salah satu dari rahasianya kenapa zakat fitrah itu diwajibkan kepada semua orang, yang miskin sekalipun. Supaya semua kita, dan juga mereka yang biasa meminta-minta, pernah merasakan nikmatnya memberi, minimal sekali dalam setahun. Inilah salah satu bentuk didikan emosional yang kita dapatkan dari ibadah puasa.
الله ُاَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Ma`asyiral Muslimin wal Muslimat Rohimakumulloh
Ketiga: Kemenangan Intelektual
Ibadah Ramadhan juga akan melahirkan sosok-sosok pribadi muslim yang menang secara intelektual. Kemenangan intelektual ditandai dengan kecerdasannya dalam memahami realita yang selalu dapat memberikan keseimbangan pada diri dan pemikiran.
Namun ada satu hal yang harus kita pahami bahwa terminologi kecerdasan intelektual dalam Islam tidak  berbanding sama dengan teori kecerdasan yang dipahami oleh banyak orang.

Selama ini banyak orang yang mengukur kecerdasan lewat pencapaian- pencapaian angka dalam batas tertentu. Sehingga sorang anak dikatakan cerdas apabila nilai rata-ratanya di sekolah Sembilan atau sepuluh. Seorang mahasiswa dianggap cerdas ketika ia sudah mampu menghapal banyak diktat perkuliahannya lalu menghasil nilai IPK tertinggi, begitu seterusnya. Sementara di dalam Islam kesuksesan dan kecerdasan diukur secara proporsional antara kwalitas dan kwantitas. Kecerdasan ada pada mereka yang menempatkan ilmu di hati bukan sekedar di lidah dan retorika saat berdiskusi tapi tidak disertai dengan aksi. Rasulullah SAW bersabda:
( اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ) (رواه الترمذي)
Orang yang berakal (cerdas secara intelektual) adalah orang memperbudak dirinya sendiri dan selalu berbuat untuk kepentingan akhirat) (H.R. At-Tirmizi)

Dengan demikian seoarang anak dianggap cerdas bukan semata-mata karena ia telah meraih angka 9 atau 10, akan tetapi diukur sejauhmana pelajaran –pelajaran itu berpengaruh positif dalam kehidupannya. Seorang dianggap cerdas bukan sekedar sudah mengetahui bahwa 1 kg itu sama dengan 10 ons, akan tetapi dianggap cerdas ketika pengetahuan itu diterapkannya di saat ia menjadi seorang pedagang. Sistem pendidikan seperti inilah yang diterapkan oleh Rosulullah SAW dalam mendidik para sahabatnya, sehingga beliau memutuskan untuk mengirim Mush’ab bin ‘Umair menjadi duta dakwah ke Madinah, padahal Mush’ab ketika itu bukanlah orang yang paling banyak hapalan alqurannya.

Hadirin kaum muslimin.....
      Kecerdasan intelektual dalam perspektif Islam ditandai dengan apabila :
  • Selalu bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram
  • Selalu mempertimbangkan antara manfaat dan mudhorat
  • Selalu mengerti akan hak dan kewaiban.
Kecerdasan seperti inilah yang selalu ingin dibina oleh ibadah puasa pada setiap peribadi muslim. Karenanya puasa selalu menuntut kita untuk selalu hati-hati dalam bertindak, bersikap dan berbicara, agar tidak menodai nilai-nilai puasa yang sedang dikerjakan. Kalau tidak bisa maka seseorang tidak akan mendapatkan apa- apa dari puasanya selain menahan lapar dan haus saja.

Inilah tiga kemenangan besar yang diharapkan dapat diraih secara nyata dalam setiap pribadi muslim melalui pelaksanaan ibadah puasa. Sebagai seorang muslim yang setiap tahun melaksanakan ibadah ramadhan harus selalu menginstropeksi dirinya di setiap penghujung hari ramadhan, agar ia tahu apakah ia hari ini benar-benar berbahagia untuk dirinya, atau untuk orang lain.
Intropeksi itu menjadi penting untuk dilakukan agar Ramadhan tidak sebatas rutinitas tahunan.
Semoga apa yang khotib ketengahkan pada kali ini, kiranya dapat bermanfaat bagi kita semua dan menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada  Allakh swt.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِيِمْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA
اللهُ أَكْبَرُ الله أكبر الله أكبر 3x 
لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ. الحَمْدُللهِ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَه وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَحَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَه. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نبَيَّ بَعْدَه. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ وأَنْعِمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ فَيَا عِباَدَ اللهِ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ.
قال الله عز من قائل: (( وَلَا تَكُوْنُوْا كَالّتِيْ نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا)) (سورة النحل: 92)

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِي يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ اِبْرَاهِيْم وَعَلىَ آلِ اِبْرَاهِيْم وَباَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا باَرَكْتَ عَلىَ اِبْرَاهِيْم فِى اْلعاَلَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد.
اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُما كَمَارَبَّيانَا صَغِيرًا وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِناَتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْواَتِ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ   
اَللّهُمَّ آرِناَ الْحَقَّ حَقاًّ وَارْزُقْناَ اتِّباَعَهُ وَآرِناَ اْلباَطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْناَ اجْتِناَبَهُ.
اللَّهُمَّ افْتَحْ عَلَيْنَا اَبْوَابَ الخَيْرِ وَاَبْوَابَ البَرَاكَةِ وَاَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَاَبْوَابَ السَّلاَمَةِ وَاَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَاَبْوَابَ الجَنَّةِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّناَ آتِناَ فِي الدُّنْياَ حَسَنَةِ وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةِ وَقِناَ عَذاَبَ الناَّر. وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ  وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.


# world-ATLAS # (NaMangunjungi Website oN)

Country Visitor

   

R A N K

blog-indonesia.com

FEEDJIT Live Traffic Feed

Labels / Kategori

ALWIN TANJUNG

ALWIN TANJUNG
E-mail: alwintanjung@yahoo.com

CALENDAR

TGL H&M(MELIHAT FullMoon)

PRAYER TIMES - JKT

Apapun yg terjdi adalah ..................


ISLAMIC WEB

all of u r welcome

SunSet

SunSet
Mata tenggelam

Prkuburan Ma'la-Makkah

Prkuburan Ma'la-Makkah

PENGUNJUNG-Visitors 4 Alwin Site

Flag Counter

PENGUNJUNG-TAMU MULAI TGL 29-12-2013

Flag Counter